Misi Apollo 17, Akhir Epik Eksplorasi Bulan

Misi Apollo 17, yang diluncurkan pada 7 Desember 1972, menyajikan penutup yang epik untuk program Apollo dan menjadi tonggak terakhir manusia menginjakkan kaki di permukaan bulan. Di tengah minimnya minat publik dan pergeseran fokus pemerintah AS ke Perang Vietnam, Apollo 17 tetap menandai momen bersejarah dengan membawa orang ke-11 dan ke-12 ke bulan.

Peluncuran misi ini, bagaimanapun, tidak berjalan mulus. Sebuah kesalahan teknis kecil memperlambatnya selama hampir 3 jam. Namun, setelah perbaikan, kru Apollo 17, terdiri dari Eugene Cernan sebagai komandan misi, Harrison “Jack” Schmitt sebagai ahli geologi, dan Ronald Evans sebagai pilot modul komando, berhasil lepas landas.

Misi ini menonjolkan dirinya dengan menjadi yang pertama melibatkan seorang ilmuwan dalam kru-nya. Jack Schmitt, ahli geologi, adalah salah satu dari enam astronot ilmuwan yang terpilih pada tahun 1965. Meskipun keputusan ini diambil di tengah tekanan dari National Academy of Sciences, Schmitt membuktikan nilainya dengan kontribusinya yang luar biasa.

Ron Evans, pilot modul komando, menjalani misi luar angkasa pertamanya setelah bertugas di Vietnam. Eugene Cernan, komandan misi, seorang mantan pilot Angkatan Laut dengan pengalaman penerbangan yang signifikan, termasuk spacewalk di Gemini 9 dan kejadian menegangkan di Apollo 10.

Pendaratan di Taurus-Littrow: Misi Berfokus Ilmu Pengetahuan

Apollo 17 menetapkan fokus pada penelitian ilmu pengetahuan dengan memilih lokasi pendaratan di lembah bulan Taurus-Littrow. Keputusan ini menjadi langkah signifikan karena mewakili pendekatan ilmiah dalam eksplorasi luar angkasa. Eugene Cernan dan Jack Schmitt berhasil mendarat di permukaan bulan dengan modul bulan Challenger, sementara Ronald Evans tetap di modul komando, America.

Tantangan besar pertama tim terjadi ketika Cernan tanpa sengaja mematahkan pelindung roda rover bulan. Debu bulan yang abrasif menimbulkan masalah, tetapi dengan improvisasi sederhana menggunakan pita perekat, Cernan berhasil membuat perbaikan. Selanjutnya, instrumen ilmiah, terutama gravimeter traverse, digunakan untuk mengukur gravitasi relatif di beberapa lokasi, memberikan wawasan mendalam tentang struktur bulan.

READ  Kampanye Sosial dan Aksi Kemanusiaan: Peran Netizen Indonesia dalam Membangun Dampak Positif

Pada hari kedua misi, saat Cernan dan Schmitt bekerja di tepi Kawah Shorty, Schmitt menyadari bahwa tanah di sekitarnya berwarna oranye. Awalnya dianggap sebagai lelucon, ternyata ini adalah penemuan penting. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa tanah oranye tersebut berasal dari bola kaca berwarna hasil ventilasi vulkanik.

Perpisahan dan Kembali ke Bumi: “Selamat Jalan, Kru Apollo 17”

Setelah menjalankan misi selama beberapa hari, kru Apollo 17 bersiap-siap untuk meninggalkan bulan. Eugene Cernan memberikan pidato singkat yang menjadi catatan bersejarah, “Saya hanya ingin mencatat bahwa tantangan Amerika hari ini telah membentuk takdir manusia esok hari. … Selamat jalan, kru Apollo 17.”

Ronald Evans mendapatkan kesempatan untuk melakukan spacewalk singkat dalam perjalanan kembali ke Bumi. Pendaratan di Samudera Pasifik Selatan pada 19 Desember menyelesaikan misi Apollo 17. Astronotnya berhasil memecahkan rekor dengan menghabiskan 22 jam di luar wahana di bulan, menjelajahi sekitar 34 kilometer dengan rover bulan, dan membawa pulang 108 kilogram batuan bulan.

Misi ini, meskipun menjadi penutup yang mengesankan, juga mengukir kenangan tentang keberanian dan penemuan ilmiah. Dengan Apollo 17, eksplorasi bulan sementara berakhir, tetapi warisan dan kontribusi ilmiahnya terus mempengaruhi pemahaman manusia tentang luar angkasa hingga saat ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *